Nur Ida Fitria: Dari Guru Teladan Hingga Pengawas Demokrasi di Kabupaten Blitar
BLITAR, tjahayatimoer.net – Sosok Nur Ida Fitria kini dikenal luas sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blitar. Namun, di balik perannya yang strategis dalam mengawal demokrasi, Ida memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan. Bahkan, pada tahun 2018, ia pernah dinobatkan sebagai guru teladan berkat dedikasinya dalam mencerdaskan generasi muda.
“Menjadi pengawas pemilu tidak harus berlatar belakang hukum. Pendidikan juga sangat penting untuk mencegah berbagai pelanggaran dalam pemilu,” ujar Ida, Jumat (31/1/2025).
Ketertarikannya pada dunia pendidikan telah tumbuh sejak masa SMA. Ida aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan mulai mengajar di sebuah lembaga pendidikan di Kecamatan Selopuro. Semangatnya untuk mendidik tidak pudar hingga ia menyelesaikan studi perguruan tingginya. Tahun 2018 menjadi tonggak penting ketika ia diakui sebagai guru dan kepala sekolah teladan, sebuah prestasi yang menunjukkan komitmennya terhadap dunia pendidikan.
Tidak hanya itu, Ida juga dipercaya sebagai asesor di Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (BAN PDM), peran yang memperkuat kredibilitasnya sebagai seorang pendidik berpengalaman. “Gini-gini saya dulu pernah menjadi guru teladan, lho,” tambahnya sambil tersenyum.
Namun, tahun 2018 membawa perubahan besar dalam kariernya. Ida menerima amanah baru sebagai komisioner Bawaslu Kabupaten Blitar. Keputusan ini membuatnya harus merelakan sertifikasi guru dan meninggalkan statusnya sebagai pendidik di lingkungan sekolah dasar. Meski demikian, kecintaannya terhadap dunia pendidikan tetap terjaga.
Ida melanjutkan kontribusinya di dunia akademik sebagai tenaga pendidik di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar. “Saya diajak Prof Zainudin untuk mengajar di sana. Tapi hanya satu mata kuliah agar tugas saya di Bawaslu tidak terganggu,” jelasnya.
Saat ini, perempuan berusia 39 tahun ini tengah menempuh program doktoral di salah satu perguruan tinggi, menunjukkan bahwa komitmennya terhadap pendidikan tidak pernah surut. Baginya, pendidikan dan pengawasan demokrasi memiliki benang merah yang sama, yaitu mencerdaskan dan membangun kesadaran masyarakat.
Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman luas di dunia pendidikan, Ida membawa perspektif yang berbeda dalam menjalankan tugasnya di Bawaslu. Ia tidak hanya fokus pada penegakan aturan pemilu, tetapi juga giat melakukan edukasi politik untuk meningkatkan literasi demokrasi di kalangan masyarakat.
“Banyak pendekatan edukatif yang perlu dilakukan untuk mencegah pelanggaran dalam setiap pesta demokrasi,” tandasnya penuh semangat.(Red.AL)
Komentar
Posting Komentar